Bayi Jatuh Kepala Belakang Terbentur Lantai



Cs386 Bantal Pengaman Kepala Balita Bantal Yang Dipakai Seperti Tas

Benturan Kepala Pada Bayi

Kejadian bayi jatuh dari tidur cukup sering terjadi dialami ketika anak menginjak usia 6 bulan hingga 1 tahun. Orang tua sering cemas bila hal itu terjadi pada buah hatinya. Bayi yang jatuh dari tempat tidur biasanya berjarak sekitar 50 cm dari ujung tempat tidur ke lantai. Meskipun kepalanya terbentur, selama di dasar lantai tidak ada benda berujung tajam biasanya tidak berakibat buruk. Karena tulang kepala bayi masih cukup elastis, ubun-ubun belum menutup hingga perubahan tekanan tidak memberikan benturan yang keras pada otak.Biasanya segala bayangan seram tentang dampak cacat akan segera menghantui. Hal itu sebetulnya tak perlu terjadi kalau kita bisa mengenali gejala gawat tidaknya cedera yang diakibatkan. Nah, apa saja yang harus dicermati, dr. Irawan Mangunatmadja, SpA dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta akan menjelaskannya berikut ini. Diharapkan, dengan langkah pencegahan yang disarankan, peristiwa bayi jatuh tak sampai terjadi.

Pengaruh Posisi Benturan Kepala Bayi Selain dari ada tidaknya benjolan, posisi benturan di kepala juga menentukan ringan dan beratnya cedera. Inilah keterangannya:

1. Benturan di bagian samping kepala, apakah kanan atau kiri, bisa berdampak sangat serius. Di bagian yang disebut daerah epidural ini terdapat pembuluh darah arteri yang menempel di tulang kepala. Kalau sampai terjadi retak/fraktur di daerah tersebut, maka pembuluh darah itu ikut robek. Akibatnya, terjadi perdarahan epidural yang biasanya sulit dihentikan karena robekan terjadi di pembuluh darah besar. Benturan yang cukup kuat di daerah temporal atau di samping dekat telinga, bisa menimbulkan gejala epilepsi/ayan.

2. Benturan di bagian belakang kepala perlu diwaspadai. Di daerah ini tersimpan fungsi-fungsi vital otak, seperti pusat penglihatan. Perhatikan apakah terjadi perubahan pada fungsi mata bayi. Seharusnya, saat melihat suatu objek, bola mata bayi terlihat fokus. Jika terjadi gangguan, bisa secara tiba-tiba bola matanya bergerak ke mana-mana atau arahnya tidak fokus. Tanda lainnya, ia tidak lagi tertawa atau tersenyum ketika melihat orang-orang dekatnya. Ini berarti pusat penglihatannya terganggu atau bahkan dia tidak bisa melihat.

3. Benturan di bagian belakang kepala agak ke sebelah bawah dapat menyebabkan cedera pada otak kecil yang merupakan pusat keseimbangan. Akibatnya timbul gangguan gerak yang meliputi kemampuan motorik kasar dan halus. Misalnya saja, tangan bayi gemetaran saat memegangsesuatu.

4. Benturan keras di kepala bagian bawah sekali atau tengkuk akan menyebabkan kesadaran bayi menurun. Di daerah ini terdapat batang otak yang kalau cedera dpt memicu gangguan pernapasan dan bahkan kematian. Jika sampai terjadi retakan tulang di bagian itu, maka patahan Tulangnya dapat menembus jaringan otak & melukai susunan saraf pusat. Cedera seperti ini termasuk kategori berat. Selain itu, bisa timbul perdarahan dari hidung atau keluar cairan dari telinga. Mengatasinya harus dengan tindakan operasi. Jika tidak, perdarahan akan terus menekan jaringan otak yang pada tahap ekstrem bisa mengakibatkan kecacatan dan kematian.

Perhatikan Benjolan Setelah terbentur, perhatikan apakah ada benjolan atau tidak. Raba kepala bayi untuk memastikannya. Kalau ada, berarti jatuhnya cukup keras. Benjolan yang muncul biasanya berwarna kebiruan. Itu mengindikasikan adanya perdarahan di bawah kulit. Untuk mengatasinya, berikan kompres air dingin agar perdarahannya terhenti. Selama kesadaran bayi masih bagus, tak ada gangguan saraf seperti bola mata jadi miring, tidak muntah, tidak tidur terus, dan tidak ada kejang, maka cederanya bisa dianggap ringan.

Perlu diketahui, walaupun benturannya keras, benjolan belum tentu muncul saat itu juga. Bisa saja baru keesokan harinya, karena perdarahan yang terjadi mungkin sedikit jumlahnya, atau benjolan itu tak begitu terasa dan terlihat karena tertutup rambut. Jadi kalau setelah jatuh tak segera muncul benjolan, belum tentu benturannya ringan. Benjolan dapat muncul kapan saja dalam 48 jam pertama.

Bila cederanya ringan, benjolan makin lama akan mengecil dengan sendirinya, sebab setiap perdarahan akan diserap oleh tubuh. Kalau benjolannya makin lama makin besar maka orang tua perlu mencurigainya. Bisa saja perdarahan itu tak diserap tubuh tapi malah membentuk semacam selaput di otak. Lama kelamaan selaput ini dapat menekan jaringan otak dan menghambat perkembangannya. Perlu dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bekuan darah dan selaput tersebut.

Ada atau tidak ada benjolan, bayi yang jatuh harus terus diamati selama 2×24 jam dan diobservasi setiap 2 jam untuk menentukan berat ringannya cedera akibat jatuh. Bila dalam kurun waktu itu suhu badannya meningkat, muntah, atau bahkan kejang, bawalah segera ke dokter. Ini berarti ada luka dalam yang lebih serius.

GEGAR OTAK

Bila dilihat dari jenis cederanya, trauma kepala dibagi menjadi tiga golongan. Yaitu trauma kepala ringan, sedang, dan berat. “Dianggap ringan bila keadaan anak secara keseluruhan baik. Dalam arti, tidak ada luka, muntah dan kejang.” Saat terbentur, anak memang akan menangis. “Bisa juga timbul luka atau benjolan. Tapi selama kesadarannya bagus, tidak ada tanda-tanda penyakit atau gejala syaraf, seperti matanya miring, muntah, dan kejang, maka itu dapat dianggap benturan ringan saja,” jelas Dr. Dwi P. Widodo, Sp.A(K), MMed, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, sub bagian Neurologi Anak.

Kendati ringan, orang tua tetap harus memantau perubahan si anak. Karena mungkin saja gejala yang dimunculkan datangnya lambat. Misalnya masa krisis baru timbul dalam waktu 24-48 jam. Contohnya pada kasus retak kepala. Mungkin pada awalnya tidak ada benjolan dan kondisi anak pun baik-baik saja. Tapi dua hari kemudian anak kejang-kejang. “Nah, itulah yang disebut efek yang lambat timbulnya. Biasanya ringan dan merupakan gangguan karena benturan atau goncangan saja serta akibat perbedaan tekanan.” Karena itu anak yang terjatuh, kendati ringan, perlu diobservasi setiap dua jam.

Sedangkan trauma kepala kategori sedang biasanya disebut gegar otak. “Gegar otak terjadi bila ada benturan disertai kehilangan atau penurunan kesadaran untuk beberapa waktu, disertai lupa mengenai kejadian tersebut,” jelas Dwi. Karena kesadarannya sempat turun, anak tak bisa menceritakan kejadian tersebut. Keadaan seperti ini timbul karena adanya gangguan fungsi sel syaraf otak, tapi tanpa disertai kerusakan sel syarafnya. Kadang, ungkap Dwi lebih lanjut, gegar otak terjadi dengan luka terbuka dan luka tertutup.

Jadi, jangan cepat mengartikan bila tidak luka maka tidak ada perdarahan di otak. Mungkin saja perdarahan yang terjadi pada gegar otak itu tidak diketahui atau tertutup. Perdarahan baru bisa dilihat melalui foto rongent atau CT Scan. Menurut Dwi, kita tak perlu cemas jika perdarahan terjadi di bawah kulit kepala. “Tapi jika perdarahan terjadi di dalam otak atau selaput otak, perlu tindakan operasi.”

Sementara itu, pada kasus trauma kepala berat, umumnya anak tidak sadar dalam waktu yang lama. “Kira-kira 5-10 menit. Kemudian ditemui ada luka atau memar, kejang-kejang, dan muntah-muntah,” ujar Dwi. Pada trauma berat, perdarahan yang terjadi bukan hanya di kulit saja, tapi sudah sampai ke dalam otak atau di tulang tengkoraknya. Dianggap berat bila kemudian muncul kejang atau bahkan kelumpuhan.

Jadi, bagaimana menentukan berat-ringannya trauma kepala? Indikatornya antara lain dari kesadarannya, ada lumpuh atau tidak, ada gangguan bola mata atau tidak, dan lain-lain. Kalau matanya miring sebelah berarti ada sesuatu di kepalanya. “Yang dicurigai adalah terjadinya perdarahan, sebab di dalam otak terdapat serabut syaraf mata. Kelainan pada mata bisa terjadi karena tekanan dari darah dan bukan kerusakan dari syaraf matanya. Bila perdarahannya dihilangkan maka bisa diperbaiki atau normal.”

PERUBAHAN TINGKAH LAKU

Bila yang terjadi trauma ringan, mungkin tidak akan terjadi gangguan pada kecerdasan maupun sistem sarafnya. Misalnya, anak tak mengalami gangguan saat belajar, tingkah lakunya normal saja, dan seterusnya. Adakalanya muncul gangguan sesaat, namun setelah itu pulih kembali.

Yang jelas, setelah mengalami trauma, akan timbul sindrom pasca trauma. Bentuk yang paling sering muncul adalah keluhan sakit kepala, dalam waktu 1-2 minggu. “Biasanya berulang dan menghilang dengan sendirinya.” Selain itu, ada juga gangguan tingkah laku seperti anak jadi agresif, maunya tidur saja, gangguan memori, dan sebagainya. Semua ini merupakan komplikasi.

Pada kasus gegar otak ringan pun, prognosisnya bisa bagus. Sedangkan gegar otak berat, yang patut diwaspadai adalah terjadinya perdarahan atau terdapat tulang kepala yang patah. Misalnya saja, bagian dari tulang yang patah itu menusuk otak. Perdarahan dapat terjadi di selaput otak atau di dalam otak. Operasi biasanya menjadi satu pilihan dan bergantung pada seberapa berat kerusakan otak.

Gejala sisa dari trauma sedang dan berat biasanya berupa gangguan perkembangan, seperti motorik kasar (duduk, berdiri, berjalan), motorik halus (pegang benda kecil-kecil), perkembangan kecerdasan, bicara dan bahasa, perkembangan sosial dan emosi. “Derajat gangguan perkembangan ditentukan oleh sejauh mana dan di bagian mana kerusakan terjadi,” jelas Dwi.

Perlu pula diketahui salah satu komplikasi trauma kepala cenderung menimbulkan komplikasi epilepsi/ayan. Umumnya komplikasi itu timbul bila benturan terjadi di daerah temporal atau samping dekat telinga.

Sebuah penelitian menunjukkan trauma di kepala – biasanya karena pernah terbentur – memengaruhi susunan saraf dalam kepala. Hal ini bisa menyebabkan gangguan otak, orang yang awalnya baik bahkan bisa menjadi orang jahat.

Penelitian ini dilakukan di University of Exeter, yang sekaligus menguatkan penelitian lainnya oleh Children’s Commissioner for England. Dua hasil penelitian tadi menyingkap, cedera yang terjadi selama proses pematangan otak bisa memicu konsekuensi sosial.

Prof Huw Williams dari University of Exeter menyebut trauma akibat cedera otak sebagai epidemi yang tersembunyi. Pemicunya banyak sekali meski sering terabaikan dan dianggap tidak serius, mulai dari jatuh saat olahraga hingga perkelahian maupun kecelakaan lalu lintas.

Kenyataannya, hal itu berhubungan erat dengan perilaku kriminal yang muncul ketika anak-anak tersebut tumbuh dewasa. Dari 200 narapidana di Inggris yang disurvei, sebagian besar atau tepatnya 60 persen punya riwayat cedera di kepala sewaktu muda.

RETAK ATAU PATAH

Perlu diketahui, pada bagian kepala belakang terdapat daerah otak kecil untuk keseimbangan, daerah mata dan daerah yang disebut batang otak. Semua daerah ini mempunyai fungsi-fungsi vital. Ada fungsi pernafasan, fungsi kesadaran, dan fungsi jantung atau kardiovaskuler. Jadi, jelaslah benturan itu bisa menimbulkan akibat banyak hal, tergantung pada bagian sisi mana benturan terjadi.

Biasanya yang paling ditakutkan bila terjadi fraktur (retak atau patah) tulang tengkorak di daerah belakang kepala. Soalnya, seperti kata Dwi, bagian dari tulang yang patah itu bisa melukai susunan syaraf pusat. Jika hal ini terjadi dan termasuk kategori berat, maka biasanya timbul perdarahan dari hidung atau keluar cairan dari telinga.

Bila hal itu terjadi, terutama jika timbul fraktur di daerah leher atau kepala, korban harus segera dilarikan ke rumah sakit agar mendapat penanganan khusus. “Orang tua dalam hal ini juga tak bisa berbuat banyak, kok. Seandainya dilakukan tindakan sendiri, malah bisa memperberat keadaan korban,” kata Dwi. Sedangkan pada bayi atau anak kecil, yang kerap dijumpai adalah fraktur diastatik. “Di bagian kepala bayi terdapat ubun-ubun besar, ubun-ubun kecil, dan bagian depan. Nah, di antara ubun-ubun tersebut dengan otak terdapat tulang-tulang. Pemisah antar tulang tengkorak (sutura) itu masih terbuka.”

Pada saat bayi, pembatas tersebut belum menyatu dan bisa terpisah. “Nah, bila tulang mudanya ini terkena benturan, bisa lepas atau bergeser. Kalau ini terjadi, tidak perlu tindakan apa-apa. Lebih baik didiamkan saja, karena nanti akan menyatu lagi mengingat anak masih dalam perkembangan. Biasanya ubun-ubun besar menutup paling telat umur 18-24 bulan.”

Cedera Lahir Yang Umum Atau Penting Pada Bayi Baru Lahir (BBL)

No.

Lesi  

Lokasi anatomik

Komentar

Deskripsi klinis dan penatalaksanaan

1.     Cedera pada kepala

Kaput succedaneum

Edema jaringan lunak pada bagian presentasi

Umum dan jinak

Edeman memar pada kulit kepala. Tidak memerlukan terapi; sembuh dalam beberapa hari.

Prognosis: baik

Chignon

Melintasi garis sutura

Disekitar lokasi ekstraksi vakum

Tidak umum dijumpai sejak digunakannya mangkuk vakum yang lunak dan fleksibel

Edema, kadang-kadang memar, terjadi kerusakan kulit

Sembuh dalam beberapa hari

Sefalhematoma

Subperiosteal

Biasanya parietal

Tidak melintasi garis sutura

Dapat bilateral

Relative umum dijumpai berkaitan dengan persalinan yang lama atau menggunakan alat

Hematoma maksimal pada hari ke 2

Dapat menyebabkan fraktur tengkorak

Dapat mengalami kalsifikasi

Mengeksaserbasi ikterus

Sembuh dalam beberapa hari sampai berbulan-bulan

Perdarahan subgaleal (subaponeurotik)

Diantara galea aponeurosis dan periosteum

Jarang

Factor resiko :

ü  Prematuritas

ü  Ekstraksi vakum

ü  Mungkin memiliki koagulopati yang mendasari

Penampilan basah dan edema pitting pada kulit kepala

Pergeseran telinga ke anterior

Pengenalan dini sangat krusial karena dapat berkembang dengan cepat menjadi syok hipovolemik

Transfusi darah, plasma beku segar, dan factor koagulasi

Fraktur tengkorak

Biasanyan pada tulang parietal; oksipital pada persalinan sungsang

Tidak umum dijumpai

Biasanya pada persalinan dengan forceps, namun juga pada persalinan normal

Edema jaringan lunak dan sefalhematoma

Fraktur dapat linear atau tertekan

Fraktur tertekan mungkin membutuhkan pembedahan di kemudian hari

Prognosis: baik

2.     Cedera minor

Tanda Forseps

Akibat tekanan forceps, khususnya forceps rotasional

Tidak umum dijumpai karena forceps rotasional kini jarang digunakan

Memar atau dan abrasi kulit

Sembuh dengan cepat

Laserasi scalpel

Kepala dan wajah

Insisi scalpel pada seksio sesarea

Biasanya kecil

Bergantung pada lokasi dan ukuran

Mungkin membutuhkan perekat untuk merapatkan tepi luka, penjahitan luka merujuk ke bedah plastic

3.     Cedera pada kepala

Palsi fasial

Biasanya unilateral (sisi kanan pada gambar), jika bilateral, curigai penyebab congenital

Tekanan pada spina iskiadika maternal atau persalinan forceps

Kelemahan fasial unilateral saat menangis mata tetap terbuka

Sembuh dalam 1-2 minggu

Jika mata terbuka secara permanen, gunakan tetes mata metilselulosa

Wajah menangis asimetris

Lebih umum dibandingkan palsi fasial

Berlawanan dengan palsi fasial, mata dapat menutup

4.     Cedera pada leher dan bahu

Fraktur pada klavikula

Area Midklavikula

Distosia bahu, sungsang, dapat terdengar bunyi patahan selama persalinan

Edema, memar, krepitasi pada lokasi; menurunnya pergerakan aktif pada lengan

Penonjolan klavikula akibat pembentukan kalus selama fase penyembuhan

Dikonfirmasi dengan rontgen

Sembuh spontan

Palsi brakial

Erb (>90%)

Syaraf yang terlibat :

C5, C6, +C7

Distosia bahu, presentasi abnormal, persalinan terhambat, makrosomia, Palsi syaraf frenikus-jarang, diafragma terangkat

Berkurangnya abduksi bahu dan rotasi eksternal, supinasi pergerakan tangan dan ekstensi jari (postur “waiter’s tip”)

Pergerakan tangan masih baik

Pada 5% palsi diafragma 90% sembuh dalam 4bulan

Untuk menghindari kontraktur, lakukan pergerakan pasif + spint

Rujukan ke dokter bedah jika tidak membaik dalam 6 minggu

Klumpke (<1%)

Syaraf yang terlibat :

C8, T1

Jarang

Deformitas tangan seperti capit akibat kelemahan otot tangan dan fleksor pergelangan tangan

Syndrome horner pada 30% (trias yang terdiri dari pupil terdilatasi, ptotis <kelopak  mata yang jatuh>, tidak berkeringat)

5.     Cedera lainnya

Ekstremitas

Fraktur humerus/femur (tulang panjang)

Sungsang, distosia bahu, mungkin memilliki kelainan tulang otot yang mendasari

Deformis, berkurangnya pergerakan anggota gerak, nyeri pada pergerakan

Rujuk ke ortopedi

Bidai untuk mengurangi nyeri, kadang-kadang hipovolemia akibat perdarahan memerlukan penanganan segera

Tulang dengan cepat mengalami remodeling

Medulla spinalis

Tulang belakang, servikal, trokal, lumbal

Jarang, persalinan dengan alat, dapat terjadi prenatal

Hilangnya pergerakan dibawah level lesi

Tidak adanya usaha bernafas pada lesi yang tinggi

Perawatan suportif, steroid untuk syok spinal

Organ intra-abdominal

Rubtur hati dan limpa, cedera ginjal, perdarahan adrenal

Makrosomia, sungsang, distosia

Hidronefrosis yang sudah ada sebelumnya

Prematuritas, neuroblastoma

Abdomen-distensi, massa, diskolorasi, nyeri, syok, pucat

Hematuria

Genetalia

Skrotum dan labia mayor

Sungsang

Memar, hematoma

Sembuh sendiri

[Dari berbagai sumber]

Gallery Bayi Jatuh Kepala Belakang Terbentur Lantai

Jangan Panik Lakukan Ini Jika Kepala Anak Terbentur Lantai

P3k Anak Hentikan Pendarahan Kepala Bocor Dengan

Bayi Jatuh Dan Terbentur Ini 8 Tanda Harus Segera Dibawa Ke

Hentakan Di Kepala Harian Metro

Apakah Cedera Kepala Anak Harus Di Ct Scan Arifianto Apin

Bila Bayi Terjatuh Dari Tempat Tidur Informasi Seputar Bayi

Tindakan Terbaik Saat Bayi Jatuh Okezone Lifestyle

Images Tagged With Keamananbayi On Instagram

Anak Jatuh Dan Kepalanya Terbentur Sejauh Apa Orangtua

Tips Cara Menolong Bayi Jatuh Kaskus

Yang Harus Dilakukan Saat Kepala Bayi Terbentur Hello Sehat

Benturan Kepala Pada Bayi Komunitas Pecinta Pengobatan Alami

Cedera Kepala Gejala Penyebab Dan Mengobati Alodokter

Jatuh Terduduk Tulang Ekor Sakit Bisa Bahaya Alodokter

Waspadai Gejala Gegar Otak Ringan Pada Anak Setelah Jatuh

Cara Pertolongan Pertama Saat Bayi Jatuh Direktori Ukm

Beragam Sakit Kepala Yang Tak Boleh Diabaikan Dream Co Id

Perdarahan Epidural Di Dalam Kepala The Silent Killer

Hal Yang Harus Diperhatikan Setelah Bayi Jatuh Popmama Com

Ini Yang Harus Dilakukan Saat Kepala Anak Benjol Okezone

Si Kecil Jatuh Dari Ranjang Apa Yang Harus Saya Lakukan

Kondisi Yang Dialami Saat Gegar Otak Alodokter

Trauma Kepala Ringan Anak Jatuh Muslimpinang Blog

Kalau Anak Asyik Jatuh Dan Kepala Terhantuk Periksa 8


Belum ada Komentar untuk "Bayi Jatuh Kepala Belakang Terbentur Lantai"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel